Kalteng

Dari Pesantren untuk Bumi: Kakanwil Kemenag Kalteng Resmikan Gerakan Ekoteologi di Palangka Raya

37
×

Dari Pesantren untuk Bumi: Kakanwil Kemenag Kalteng Resmikan Gerakan Ekoteologi di Palangka Raya

Sebarkan artikel ini

Palangka Raya, Borneosatu.co.id – Upaya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan berbasis ajaran agama terus digencarkan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah. Hal itu ditandai dengan launching Program Ekoteologi Pesantren oleh Kepala Kanwil Kemenag Kalteng, H. Yusi Abdhian, di Pondok Pesantren Al-Wafa, Selasa (10/2/2026).

Acara tersebut juga menjadi momentum pengukuhan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Palangka Raya. Hadir dalam kegiatan itu sejumlah pejabat daerah, perwakilan Bank Indonesia, tokoh masyarakat, serta para pengasuh dan santri dari berbagai pondok pesantren.

H. Yusi Abdhian menyampaikan bahwa konsep ekoteologi mengintegrasikan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis. Menurutnya, pelestarian lingkungan bukan sekadar isu global, melainkan bagian dari kewajiban moral dan spiritual umat beragama.

“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki kekuatan besar untuk membentuk generasi yang sadar dan peduli terhadap kelestarian alam,” katanya.

Program ini diawali dengan penerapan di dua pesantren sebagai percontohan, yakni Pondok Pesantren Al-Wafa dan Pondok Pesantren Manba’u Darissalam Palangka Raya. Implementasinya meliputi edukasi pengelolaan sampah, gerakan kebersihan, serta pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Sebagai simbol dimulainya gerakan tersebut, dilakukan penyerahan plang Program Ekoteologi Pesantren kepada pimpinan pondok pesantren. Kegiatan juga ditandai aksi simbolis pengumpulan botol plastik bekas untuk selanjutnya dikelola dan dijual kembali.

Langkah sederhana itu, menurut Kakanwil, merupakan pesan kuat bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil di lingkungan pesantren. Ia berharap gerakan ini mampu melahirkan pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Semoga pesantren di Palangka Raya menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun gerakan ekoteologi yang berkelanjutan,” tutupnya. (shah/rls/foto:ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *