Palangka Raya, Borneosatu.co.id – Sosok akademisi asal Kalimantan Tengah, Aswin Usup, kembali menarik perhatian publik melalui pandangannya yang unik terkait dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dosen tetap Program Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Palangka Raya ini dikenal memiliki rekam jejak akademik mumpuni. Ia merupakan lulusan Master of Science (M.Sc) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang Ilmu Lingkungan dari Hokkaido University, Jepang.
Tak hanya berkiprah di dunia akademik, Aswin juga aktif dalam inovasi teknologi lingkungan. Ia tercatat sebagai pemegang hak kekayaan intelektual (HKI) untuk pompa portabel sumur bor tenaga surya, yang dirancang sebagai solusi pencegahan kebakaran hutan. Selain itu, ia juga memimpin berbagai proyek restorasi gambut berskala internasional, bekerja sama dengan lembaga seperti Japan International Cooperation Agency dan United Nations Development Programme.
Saat membahas fenomena karhutla yang terus berulang di Kalimantan, Aswin mengungkap temuan menarik hasil penelitiannya bersama tim. Ia menyebut adanya hubungan antara paparan kebakaran hutan dan lahan dalam jangka waktu tertentu dengan kondisi fisik manusia, khususnya kapasitas paru-paru.
“Wilayah yang mengalami karhutla selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan adanya gangguan terhadap kapasitas oksigen dalam paru-paru,” ungkapnya.
Temuan tersebut kemudian memunculkan hipotesis lanjutan yang cukup unik, yakni kemungkinan keterkaitan antara kondisi lingkungan ekstrem dengan terbentuknya daya tahan fisik tertentu yang berpotensi melahirkan atlet profesional.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa temuan ini masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan hubungan kausal secara ilmiah.
Sebagai Ketua DPD Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional, Aswin terus mendorong pentingnya pengelolaan lingkungan berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak jangka panjang karhutla, baik dari sisi kesehatan maupun potensi sumber daya manusia. (red/shah)