NewsNusantara

Mendunia Lewat Tulisan Pena, Putra Terbaik Samba Bakumpai Itu Telah Tiada

17
×

Mendunia Lewat Tulisan Pena, Putra Terbaik Samba Bakumpai Itu Telah Tiada

Sebarkan artikel ini
Alm. Bakran Asmawi (tengah) saat menjadi salah satu Dewan Redaksi di TV One. (ist)

Palangka Raya, Borneosatu.co.id – Bakran Asmawi atau yang lebih akrab disapa Julak Ibak, sebuah nama yang melegenda merupakan sosok putra terbaik asal Desa Samba Bakumpai, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Beliau masuk LKBN ANTARA di Jakarta pada 1967. Pada akhir 1968, ia bersama Andi Baso Mappatoto ke Malaysia membahas antara lain soal bahasa serumpun.

Pada 1979, ia meliput perang perbatasan Vietnam-Cina bersama wartawan TVRI Hendro Subroto dan Kasakean sebagai wartawan pertama Indonesia diizinkan masuk Vietnam pasca-peristiwa 1965.

Pada 1983, ia menjadi pemenang beasiswa Dag Hammarskjold Memorial. Dag Hjalmar Agne Carl Hammarskjöld adalah sekretaris jenderal kedua Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menjabat sejak April 1953 hingga kematiannya akibat kecelakaan pesawat pada September 1961.

Bakran menjadi pemenang dari Asia. Pada 1985, ANTARA menerbitkan buku berjudul “Pesan Pembaharuan dari Bandung: 30 Tahun Konferensi Asia-Afrika”, yang ditulisnya bersama beberapa wartawan ANTARA, termasuk Ismet Rauf. Ia sekaligus menjadi penyunting, dengan kata pengantar Pemimpin Umum Trenggono.

Pada paruh kedua 1980-an, ia menjadi kepala biro ANTARA New York. Pada 1988, ia meraih gelar Master of Science dari Universitas Ohio. Ia meliput Presiden Soeharto sebagai ketua Gerakan Nonblok di markas PBB di New York pada 1992. Pada tahun itu pula, ia meliput Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, dan mewawancarai Presiden Venezuela Carlos Andrés Pérez di istana Miraflores, Caracas, Venezuela.

Seusai bertugas di Amerika Serikat pada 1993, ia pulang dan menjabat ketua dewan direktur Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA hingga pensiun pada Juni dua tahun kemudian.

Ia selanjutnya bergabung dengan Rajawali Citra Televisi Indonesia, lalu ke MetroTV pada 2000, LATIVI dan tvOne.
Di RCTI, ia menjadi produser acara “Bulletin Malam”. Di MetroTV, ia bersama Helmi Johannes menyusun Panduan Kebijakan dan Standar Berita stasiun televisi itu.

Di tvOne, Bakran menjadi pengajar teknik menulis naskah berita.
Selain itu, ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan.

Bakran berasal dari Tumbang Samba (Desa Samba Bakumpai), Kalimantan Tengah.
Rizali Hadi dalam bukunya, “Tumbang Samba Kota Pahlawan” menyatakan Bakran adalah saksi sejarah, yang pada masa kecilnya melihat rentetan pertempuran rakyat melawan Belanda (KNIL/NICA), yang ingin kembali menjajah tanah Dayak itu.

Selama menempuh pendidikan ia selalu lulus terbaik sejak sekolah rakyat, sekolah lanjutan pertama hingga lanjutan atas, yang membuatnya mendapat beasiswa ke Sekolah Guru B di Sampit dan karena lulus terbaik pula, beasiswanya diperpanjang untuk ke Sekolah Guru Atas di Banjarmasin.

Nilai terbaik membuat pemerintah daerah Kalimantan Tengah, yang baru berdiri, memberinya beasiswa melanjutkan kuliah ke IKIP Malang. Setelah lulus, ia melapor ke pemerintah daerah, tapi keadaan kacau aibat peristiwa 1965, membuatnya terkatung-katung karena tidak ada penempatan.

Bakran kemudian ke Jakarta. Pada suatu saat ia marah ketika melihat dua karyawan bergurau dan mengolok-olok, “Dayak lu,” di lorong depan “lift” lantai 20 Wisma ANTARA kala itu.

“Saya orang Dayak. Jangan main-main dengan kata itu,” katanya. Kedua anak muda tersebut pun minta maaf.

Bakran meneguhkan ulasan bahwa pertikaian suku Madura dengan Dayak pada hakikatnya bersumber pada perbedaan pemahaman tentang pengelolaan linkungan, yang seharusnya dapat dihindari.

Sebagai wartawan, ia pernah merasa gundah. “Liputan yang bikin saya mati kutu alias tidak sempurna adalah US Open di New York, yang diikuti Yayuk Basuki. Masalahnya karena saya kurang persiapan,” katanya di lamannya.

Wartawan dan pendidik kelahiran 22 mei 1939 itu meninggal dunia di Jakarta dan dikebumikan pada 23 februari 2026. Selamat Jalan Julak Ibak. (shah/kas/dirangkum dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *